BELAJAR TENTANG KEHIDUPAN

Saya sebenarnya bukan orang yang pantas berbicara tentang pengelolaan keuangan dan investasi, karena pada kenyataannya saya belum memiliki banyak aset maupun  simpanan investasi.

Saya memulai kehidupan berkeluarga cukup cepat (meski di jaman itu saya di kampung sudah di golongkan sebagai perawan tua hahahhah) saya menikah di usia 24 tahun sedangkan usia suami 25 tahun.  Sama-sama belum mempunyai pekerjaan mapan, kami masih baru mulai bekerja dengan gaji ala kadarnya.  Setelah menikah kami masih beda domisili, saya di Jakarta dan suami di Solo.  Saya bekerja di Money Changer milik Om dan suami menjadi Teknisi di Yong Ma. Om dan Tante melihat kami yang menikah tapi masih berpisah akhirnya menawari untuk mengelola bisnis franschisenya di kota Balikpapan.  Waktu itu pikiran saya hanya ingin mencoba hal baru, belum pernah naik pesawat apalagi menyeberang ke pulau lain.  Suami di lepas oleh ibundanya dengan berderai air mata sedang ibuku baik-baik saja (saya sudah terbiasa ngekost sejak masih SMA).  Sempat terdampar di kota Samarinda selama 6 bulan dan hidup hanya mengandalkan uang 500.000 sebulan (makan tidur sudah ditanggung sich) tapi kondisi saya hamil muda jd sering ngidam kepengen jajan. 

Tahun 2005 kami memulai bisnis franchise Mr. Celup di Balikpapan, saya managernya ceritanya :p suami bagian jualan, gaji kami tak seberapa tapi tempat tinggal dan uang makan terjamin, namun bisnis itu hanya bertahan 1 tahun saja kemudian gulung tikar karena biaya operasional yang jauh lebih besar ketimbang omzet.  Akhirnya tante memutuskan untuk menutup Mr. Celup. Saat itu kami bimbang, haruskah kami pulang ke Jawa atau tetap tinggal di Balikpapan.  Untuk pulang ke Jawa kami tak punya ongkos, akhirnya suami berusaha melamar pekerjaan di beberapa perusahaan, setelah beberapa waktu, tak ingat berapa lama antara melamar sampai diterima kerja. Suami diterima bekerja di PT. Velseis Indonesia, perusahan Logging Geophysic menjadi teknisi.  Masa percobaan gaji hanya Rp. 900.000,- 

Yang perlu di catat adalah saya waktu itu baru melahirkan, saya harus bertahan hidup dengan uang 900.000 sebulan untuk kami bertiga (setelah jadi karyawan tetap gaji suami jadi 1.2jt), sedangkan untuk susu si Najmi saja perlu 200rb (waktu itu Najmi lahir dengan berat badan dibawah normal) karena waktu hamil mungkin saya terlalu keras bekerja dan tidur pasti lewat tengah malam karena menunggu anak-anak yang jualan setoran. Sisa kontrakan alhamdulillah masih ada 1 tahun, tapi saya harus membayar listrik, air dan biaya makan sendiri.  Entah bagaimana caranya saya survive waktu itu, kalo di bayangin suka unbelievable banget hehehe.  

Dua tahun di Velseis suami ditawari boss-nya untuk ikut karena beliau akan membuat Perusahaan sendiri.  PT. Intilog Indonesia. Gaji lumayan dinaikin jadi 2jt-an.  Qodarullah waktu itu ada kasus saya merasa terancam oleh tetangga dan terpaksa memilih pindah kontrakan, uang bener-bener habis karena sudah disetorkan untuk membayar kontrakan (kontrakan rumah sudah bayar sendiri).  Saya mencoba sms boss suami yang baru buka perusahaan, barangkali masih butuh pegawai entah untuk ngapain aja.  Awalnya saya cuma disuruh jagain kantor, ga perlu ngapa-ngapain cuma jagain telpon sama bersih-bersih saja.  Tapi karena ketika diminta bantuan untuk mengerjakan tugas menyiapkan kelengkapan dokumen untuk tender proyek saya mampu, kebetulan waktu kuliah jurusan bahasa Inggris meski belepotan masih bisa berkomunikasi dengan boss yang orang Australia, saya pun menjadi pegawai tetap. 

Kami berangkat benar-benar tak punya apa-apa. Waktu kerja di Velseis suami berangkat naik sepeda onthel (hanya sepeda yang mampu kami beli) sampai kemudian sepeda motor milik ayahnya di kampung di jual dan uangnya dikirimkan ke kami, kami bisa membeli motor bekas, kami berdua sama sekali ga tahu menahu soal motor, ketika beli motor bekas luarnya tampak baik-baik saja ternyata itu motor bekas tabrakan yang dalemnya banyak kerusahakan parah, akhirnya kami jual lagi motor itu dan uangnya dipake untuk uang muka kredit motor baru. Gaji kami yang kecil dipotong angsuran motor hahah waktu itu untuk sekedar membeli buku Harry Potter seharga 100rb saja saya harus menyisihkan sisa uang belanja beberapa bulan.  Tiap bulannya saya cuma bisa menyisihkan beberapa ratus ribu rupiah untuk tabungan.  Membeli barang hampir semua dengan cara kredit.  Tapi Alhamdulillah saya tidak pernah berhutang.  Alhamdulillah dari gaji yang kecil itu kami selalu tercukupi, setiap ada kebutuhan besar dimana kami hampir tak punya simpanan alhamdulillah selalu ada uluran tangan entah darimana asalnya.

Dalam segala keterbatasan itu kami tetap menyisihkan sedikit untuk simpanan/investasi.  Saya mencicil tanah kavling waktu itu seharga 20jt yg dicicil selama 5th jadi cicilannya 250rb saya ambil 2 kavling jadi sebulan nyicil 500rb, alhamdulillah sudah lunas dan dapat sertifikat tanahnya. Mengingat carut marut sistem pertanahan di Balikpapan saya bisa dibilang sangat beruntung, tak sedikit teman-teman saya yang tertipu ketika membeli tanah/rumah. 

12 Tahun yang lalu dengan kondisi keuangan yang ala kadarnya kami memutuskan untuk mengambil kredit rumah yang sekarang kami tinggali.  Gaji suami untuk bayar cicilan dan gaji saya untuk biaya makan sehari-hari. Alhamdulillah sudah 12 tahun terlewati cicilan tinggal 3 tahun lagi, kemudian kami bisa bernafas lega.  

Mobil kami juga nyicil waktu itu karena memang setelah punya dua anak, bepergian naik motor boncengan jadi merepotkan sekali.  Alhamdulillah mobilnya sudah lunas  juga, sekarang sudah 7 tahun usia mobilnya, kepengen ganti tapi ya belum ada urgensi selain sekedar nafsu belaka. 

Saya pegang duit hanya beberapa hari setelah gajian, setelah itu saya ga akan punya uang lagi, semua sudah di alokasikan, untuk membayar semua tanggungan, tabungan langsung di sisihkan tapi kadang akhir bulan kepepet masih kecuil lagi tabungannya hahaha.......ya nggak usah ngoyo juga sich hidup, nabung ya nabung aja tapi jangan sampai kita hidup kesusahan gara-gara pengen nabung. Belum tentu umur kita panjang untuk menikmati hasil tabungan kita.  

Intinya hidup harus balance saja.  Hidup jangan foya-foya saja, nabung juga untuk persiapan hari esok tapi ya jangan sampai membuat hidup kita kelewat sulit. Asal kita punya keinginan kita pasti bisa mewujudkan keinginan.  Syukuri setiap rezeki yang kita terima, insyaallah Allah akan cukupkan.  

Sesuaikan gaya hidup dengan penghasilan, jangan biasakan berhutang, sisihkan penghasilan di awal sebagai simpanan, usahakan punya aset, rumah itu penting banget, jadi ketika penghasilan kita sedikit longgar usahakan untuk mulai mencicil rumah.  Dahulu belum banyak pilihan, satu-satunya cara untuk memiliki rumah hanya lewat KPR Bank.  Sekarang banyak property syariah, dengan cicilan ringan dan syarat yang mudah.



"Family photo lebaran 2021"


Comments

Popular posts from this blog

CLUSTER JASMINE

BUKIT SROBONG RESIDENCE